Tampilkan postingan dengan label Tips N Trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips N Trik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juli 2012

Tips Unik Hemat BBM


KompasOtomotif - Media otomotif Autoevolution punya tips hemat BBM yang konyol, meski simpel, murah, dan unik. Caranya tidak berkutat pada hal-hal teknis, tetapi cukup dengan kertas, gunting, dan spidol.

Seperti pada gambar, buat dua potongan kertas yang sudah dituliskan "No!" atau "Stop Sampai Sini" atau "Jangan!" mengikuti lingkaran layar RPM dan layar kecepatan di spidometer yang menggunakan jarum (bukan digital).

Selanjutnya tempelkan dua kertas itu untuk menutupi layar RPM yang menunjuk angka 2.000 ke atas, dan menutupi layar kecepatan di atas angka 100 km/jam.

Seperti disampaikan di sejumlah tips, cara agar irit BBM adalah tidak melebihi angka-angka itu. Nah, dengan cara ini, kita bisa menghibur diri di tengah pusingnya industri dan pemerintah mengetengahkan teknologi dan regulasi hemat bahan bakar, konverter BBG, hingga mobil hibrida atau bahkan murni elektrik yang cenderung mahal. (Dimas Wahyu)

Kamis, 21 April 2011

Kerusakan Catalytic Converter


Keberadaan Catalytic Converter (CC) menjadi kondang sejak pemberlakukan standar Euro 2 untuk kendaraan lokal pada 2007. Tak pelak, peranti ini menjadi filter penting untuk menjaga emisi tidak bersahabat yang keluar dari corong knalpot kendaraan.

Catalytic Converter inilah salah satu peranti untuk menekan gas emisi pada kendaraan. CC ini berfungsi mereduksi sejumlah emisi yang dihasilkan pembakaran dari mesin.

Peranti ini bekerja menggunakan katalis untuk menstimulasikan reaksi kimia yang dihasilkan dari pembakaran yang dikonversikan menjadi emisi yang bersahabat. Contohnya karbon monoksida (CO) yang berbahaya menjadi karbon dioksida CO2.

Nah, pada kendaraan roda empat, CC mampu mengubah karbon monoksida (CO), Hidro Carbon (HC) dan Nitrogen Oksida (NOx) menjadi gas yang tidak berbahaya. Hasil uji emisi menjadi parameter yang valid.

Sehingga CC begitu familier dikaitkan dengan program ramah lingkungan di kalangan otomotif. Hanya saja, harga perangkat ini tidak bisa dibilang murah. Sehingga pemahaman dan perlakuan yang tepat dalam merawat CC menjadi cara bijak di samping fungsinya yang cukup vital.

Gejala Kerusakan
Pertanyaannya, sejauh mana usia pakai CC di kendaraan? Secara teknis, memang belum ada standar usia pakai atau kilometer tertentu pada kendaraaan.

Namun, sejumlah bengkel memberikan “patokan” performa CC mesti diperhatikan saat kendaraan telah menempuh jarak tempuh di atas 60 ribu km atau sekitar 3 tahun pemakaian.

Artinya di atas usia itu, komponen ini mesti mendapat perhatian ekstra. Apakah masih optimal atau tidak kinerjanya? Bila masih oke, tidak menutup kemungkinan usia pakainya bisa melebihi kisaran tersebut. Sementara untuk mengetahui gejala penurunan performa CC, ada sejumlah parameter untuk itu.

“Gejala umum yang terjadi, tenaga kendaraan terasa tertahan. Akibat adanya hambatan pada sekat jeroan CC yang tidak lancar,” jelas Parman Suanda, Service Manager Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta.

Penyumbatan ini diakibatkan oleh karbon yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna. Penyebabnya pun bermacam-macam, baik dari kualitas bbm yang buruk, filter udara kotor, sistem pengapian tidak bekerja optimal.

Perlahan tapi pasti, karbon tersebut bakal mengendap pada sekatsekat di CC. Akibatnya, tenaga mesin seolah tertahan akibat saluran CC tersendat. Bisa ditebak, tidak hanya performa mesin menurun, konsumsi BBM pun menjadi lebih boros.

Bila sudah begini, jangan coba-coba mekanik Anda mengakali CC ini. Cara ini tidak direkomendasikan. Kalau pun diakali, performa dan fungsi CC mereduksi emisi tidak optimal.

Solusinya adalah mengganti dengan CC baru. Memang, seperangkat CC tidak murah. Satu perangkat CC untuk Toyota Camry 2.4 dibanderol Rp 5,2 juta atau Toyota Fortuner setara dengan Rp 6 juta.

Pahami lokasi penempatan dan efeknya
Sejumlah pabrikan terus mengembangkan teknologi CC, termasuk penempatan yang efektif. Maklum mekanisme kerja optimal CC juga mesti dipahami oleh pelaku otomotif itu sendiri.

CC baru bekerja efektif pada temperatur panas tertentu. Sementara lokasi penempatan CC juga mesti diperhatikan. Sebut saja, lokasi CC di kolong pada Toyota Alphard. Saat pemanasan yang lama pada kondisi idle, di sekitar kendaraan, terutama di kolong, tidak direkomendasikan benda yang mudah terbakar.

Potensi terbakarnya benda di sekitar itu cukup besar. Maklum posisi CC di kolong dan temperaturnya yang tinggi bisa membuat hal tersebut terjadi. Upayakan agar kendaraan Anda berada di permukaan aspal atau sejenisnya yang tidak mudah terbakar.

Dalam buku manual dicantumkan bahwa kendaraan dilarang untuk dihidupkan dalam kondisi diam selama lebih dari 5 menit. Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kemungkinan kebakaran akibat meningkatkanya suhu di CC.


sumber: autobildindonesia.com

Memilih Kaca Film dan Perawatannya


JAKARTA, KOMPAS.com – Dengan banyaknya merek kaca film dipasarkan di Indonesia, menuntut konsumen harus menentukan pilihan. Tidak bisa dipungkiri, faktor harga sangat menentukan. Begitu juga dengan performa atau kinerja lapisan kaca tersebut.

Kendati demikian, menurut Christopher Sebastian, Distributor Masterpiece Indonesia, faktor utama yang harus dipertimbangkan memilih kaca film adalah keamanan dan bukan hanya penampilan. Pasalnya, dari segi penampilan banyak kaca film yang menarik, namun keamanannya kurang.

Kedua adalah tingkat kegelapan untuk kaca depan. “Jangan sampai berlebihan. Pemerintah hanya membolehkan, maksimal 40 persen. Kalau terlalu gelap plus kualitas kaca kurang baik, justru akan membahaya pengemudi di malam dan saat hujan. Pandangan bisa tergganggu,” urai Chris.

Umur Pakai
Dijelaskan pula, usia kaca film maksimal 5-7 tahun dan sangat tergantung pada kualitas produk. Jika sudah melewati masa tersebut, kemampuannya membendung panas matahari, sinar ultraviolet dan infra merah dipastikan sudah tidak efektif. Kalau sudah begini harus diganti!

Perawatan
Bagaimana merawat agar awet? Pertama, utamakan kebersihan kaca baik dari dalam atau di luar luar kabin. Untuk membesihkannya, gunakan lap basahdan setelah itu dilap lagi dengan kain kasa kering atau chamois.

sumber: kompas.com

Selasa, 12 April 2011

Tips Merawat AC


Jangan biarkan diri Andaberada di kondisi seperti ini: embusan AC tak lagi sejuk dan Anda merana sepanjang perjalanan. Padahal menjaga AC selalu dingin bukanlah hal sulit, kalau tak mau dibilang mudah.

Anda memang tetap membutuhkan bengkel AC untuk melakukan servis berkala, tapi di luar itu banyak langkah-langkah yang dapat Anda lakukan sendiri di rumah. Yang penting, langkah perawatan dilakukan secara rajin dan telaten.

Demi kesejukan, kenyamanan dan kenikmatan berkendara, silahkan Anda menerapkan beberapa cara berikut ini:


1. Lakukan servis rutin

Jangan tunggu AC rusak. Patuh pada servis berkala adalah hal paling mujarab mencegah itu terjadi. Termasuk rutin memantau kondisi Freon yang bisa diintip dari ‘jendela’ yang ada di tabungnya. Sebaiknya servis AC dilakukan setiap menempuh 15.000 km.

2. Bersihkan karpet

Karena umumnya evaporator ditempatkan di dekat lantai dek, maka kebersihan ruang kaki adalah hal yang penting bagi AC. Debu bergentayangan di sekitar leg room depan otomatis akan ikut terisap oleh evaporator.

Lambat laun, tumpukan debu ini menyumbat dan mempengaruhi kinerja AC. Maka itu Anda harus melakukan pembersihan rutin dengan cara melakukan vakum di karpet dan karpet dasar. Usahakan minimal seminggu sekali atau ketika Anda mencuci mobil.


3. Enyahkan debu

Tak beda dengan karpet, kursi juga berpeluang untuk mengikat debu di kabin. Aktivasi AC yang umumnya menggunakan sirkulasi udara tertutup membuat debu yang menempel di kursi akan ikut terhisap evaporator.

Jika jok mobil Anda sudah dilapis kulit, cukup lap secara rutin. Tapi bila masih memakai beledu atau fabric, isap debu tersebut menggunakan vacuum cleaner.


4. Semprot filter kabin

Mobil-mobil lansiran 2005 ke atas umumnya sudah menggamit filter kabin untuk menyaring udara yang diisap oleh AC. Ini sebuah keuntungan besar karena Anda tinggal melakukan penyemprotan saringan tersebut untuk membuang kotoran.

Filter ini biasanya ditempatkan di laci dasbor dekat evaporator. Anda tinggal melepas laci, membuka boks filter lalu menyemprot filternya dengan udara bertekanan. Untuk item yang satu ini Anda bisa melakukannya setiap 5.000 km.


5. Jaga kebersihan kisi-kisi ventilasi AC

Kisi-kisi yang berdebu tak hanya merusak penampilan kabin, namun bisa membuat udara yang berembus menjadi apek. Belum lagi faktor kesehatan yang ikut terancam akibat debu terisap paru-paru.

Untuk itu, senantiasa bersihkan ventilasi AC. Anda bisa memanfaatkan kuas atau sikat gigi bekas. Tapi jika ingin menjangkau bagian yang sempit, tak ada alat yang lebih ampuh selain menggunakan cotton bud. Bentuknya yang kecil memudahkan pergerakannya, dan gulungan kapasnya membuat debu menempel dan Anda tinggal membuangnya.


6. Semprot kondensor AC

Karena letaknya yang di depan mobil, kondensor AC kerap menjaring kotoran yang datang dari arah depan. “Ketika mencuci mobil, sempatkan untuk menyemprot kondensor dengan air bertekanan,” ucap Doni Djatidjaja, Manajer Operasional C3 di bilangan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Tujuannya, tekanan air akan mendorong kotoran pergi dari kisi-kisi kondensor



Pasang filter tambahan
Tak semua mobil sudah dilengkapi filter udara kabin terutama mobil-mobil tahun 2005 ke bawah. Padahal komponen ini penting untuk kemudahan melakukan perawatan.

Padahal boks evaporator biasanya sudah dipersiapkan untuk menggunakan filter kabin. Ada yang tinggal membuka tutupnya atau ada yang berbentuk dinding paten tanpa penutup khusus.

Untuk itu Anda harus melakukan sedikit modifikasi. Caranya dengan melubangi dinding boks agar filter bisa masuk. Pilihlah saringan yang seukuran dengan boks mobil Anda, atau yang ukurannya mendekati.

Ini dimaksudkan agar lubang yang dibuat tidak terlalu besar. Setelah filter sudah duduk sempurna, tutup kembali dengan lakban agar input udara tetap terkonsentrasi pada jalur masuk di evaporator

Senin, 08 November 2010

Awas! Abu Merapi Berbahaya buat Mobil



JAKARTA, KOMPAS.com — Debu vulkanik yang ditimbulkan akibat letusan Gunung Merapi tak hanya berpengaruh terhadap lingkungan dan kesehatan, tetapi juga terhadap kendaraan bermotor yang menjadi alat transportasi sehari-hari. Pengaruh paling kasat mata adalah menjadi begitu kotornya mobil atau motor Anda akibat debu yang menempel, apalagi jika telah bercampur dengan air hujan.

Persoalannya, kandungan silika yang terdapat pada debu vulkanik ini memiliki bentuk yang tajam yang berpotensi merusak cat dan kaca mobil yang Anda miliki. "Dalam kondisi kering, debu ini tak berbahaya karena akan hilang tertiup angin saat mobil berjalan," ujar Usman Adhie, Service Operation Manager Tunas Toyota. "Namun jika bercampur air, dia akan menjadi lumpur dan tetap menempel di badan mobil," tambahnya.

Menurut Usman, hal yang harus diperhatikan justru saat menghilangkan debu yang menempel di badan mobil. "Jika langsung dilap, dipastikan akan membuat cat mobil baret-baret," ujarnya. Saran untuk hal ini, siram badan mobil dengan tekanan yang tidak terlalu keras.

Sebaliknya, semprotan air bertekanan tinggi bisa menggores cat mobil. Untuk itu, cara paling tepat adalah dengan menyiramkan air sabun atau menyemprotnya dengan tekanan yang tidak terlalu tinggi. "Jika debu masih membandel, bisa dibantu dengan menggunakan kuas atau sikat yang berbulu halus," paparnya.

Kaca
Debu vulkanik yang menempel di kaca juga bisa merusak permukaannya hingga baret. Seperti pada cat mobil, solusi menghilangkannya adalah dengan menyiramkan air ke kaca mobil. "Jika kondisinya kering, masih bisa dihilangkan dengan menggunakan kemoceng. Namun, jika sudah menempel, jangan dilap atau menyalakan wiper," saran Usman.

"Intinya, apa yang akan bergesekan dengan abu harus diberi pelumas," tambahnya. "Untuk itu, tambahkan air wiper dengan sampo atau sabun mandi—jangan deterjen—agar saat disemprotkan, permukaan kaca menjadi lebih licin. Debu tak mudah menempel dan lebih aman saat wiper dinyalakan," ujar pria ramah ini.

Mesin
Mesin mobil membutuhkan udara untuk pembakaran. Saat udara mengandung banyak debu vulkanis, yang harus dilakukan adalah meminimalkan debu yang dapat terhisap ke dalam mesin. "Artinya, jangan kendarai mobil terlalu kencang," ujar Usman. "Semakin kencang kendaraan, makin banyak udara yang dihisap oleh mesin. Saringan udara akan mudah kotor dan tidak bekerja optimal," ujarnya.

"Jika sampai masuk ke ruang bakar, debu vulkanik akan menempel dan berubah menjadi seperti ampelas yang merusak dinding silinder. Akibatnya, bisa lebih cepat merusak mesin. Jika rusak, perbaikannya akan sangat mahal," ucap Usman.

Untuk mencegahnya, Usman menyarankan agar pemilik lebih sering memerhatikan kondisi saringan udara. "Jika terlalu kotor, harus dibersihkan atau diganti jika kondisinya sudah tak layak," ujarnya. Tak hanya mobil, pemilik sepeda motor juga perlu memerhatikan saringan udara ini. "Pemilik sepeda motor terkadang tak menggunakan saringan udara. Hal ini sangat berbahaya," ungkapnya.

Sumber:www.kompas.com

Rabu, 13 Oktober 2010

Mengetahui Kondisi Mesin Mobil dari Busi

KOMPAS.COM - Banyak cara untuk mengetahui keadaan mesin mobil. Salah satunya bisa dilihat dari warna dan kondisi busi. Kalau punya waktu luang akhir pekan ini, coba buka busi dan perhatikan, apakah seperti petunjuk di bawah ini?

Coklat : Pada elektroda coklat agak keabu-abuan pertanda busi bekerja normal, namun mendekati batas usia pakai. Sebaiknya ganti baru.

Kekuning-kuningan: Mesin mengalami overheat, sehingga suhu dan tekanan pada mesin naik secara drastis. Cek peranti pendingin mesin.

Usang : Busi seperti usang dengan sedikit timbunan kerak pada elektroda. Busi telah apkir dan perlu ganti baru.

Kemerahan : Lapisan elektroda terkelupas dengan warna kemerahan, tapi tidak ada kerak. Mesin mengalami ovberheat, periksa kode heat range dan peranti pendingin mesin.

Gosong : Terdapat timbunan kerak dan elektrodanya berwarna gosong. Artinya, setelan bahan bakar tidak benar. periksa suplai bensin dan peranti kelistrikan lainnya.

Meleleh : Elektroda meleleh dan terlihat gosong, akibat busi dengan heat range yang salah. Terjadi kebocoran pada komponen mesin yang menyebabkan pelumas turut terbakar di ruang mesin.

Kerak tebal : Timbunan kerak yang tebal pada elektroda dan kepala busi disebabkan pemakaian bahan bakar yang buruk. Terjadi kebocoran pada sil di klep yang membuat pelumas merembes hingga ke busi.

Basah : Terdapat sisa pelumas pada elektroda dan kepala busi, mesin mengnalami detonasi atau ngelitik. Cek timing pengapian atau gunakan bahan bakar yang sesuai denngan spesifikasi mesin.

Bengkok : Elektroda menempel pada kepala busi dikarenakan piston menghantam busi. Cek komponen internal mesin.

Tersendat : mobil tersendat dan mendadak mati. kemungkinan koil mobil panas. Segera matikan mesin dan kompres koil denngan lap basah. (Pratomo FJ)

Sumber : kompas.com

Sumber :
 
TOYOTA JOGJA. Design by Wpthemedesigner. Converted To Blogger Template By Anshul Tested by Blogger Templates.